—Maka, kebusukan mana lagi yang hendak kau tutupi, Tuan Nurdin?
Riwayat PSSI di masa kekuasaan Yang Terkutuk Nurdin Halid adalah riwayat tentang kebobrokan yang kian parah. Kekuasaan Nurdin adalah tipe kekuasaan yang hobi berak di sepanjang jalan sambil berkoar-koar soal kesucian diri. Tipe kekuasaan macam ini tak akan pernah kita temui di buku-buku manajemen organisasi.
Tuan Koruptor Nurdin jauh dari becus untuk mengurus sepak bola. Di masa kekuasaan (dan bukan kepemimpinan) Nurdin, tak ada prestasi yang membanggakan. Yang ada malah segudang tipu-muslihat: pertandingan penuh skenario, penalti rekayasa, mafia wasit, kerusuhan, hingga adu pukul antarpemain. Siapa yang didegradasi atau siapa yang diloloskan bisa diatur.
Jauh sebelum kompetisi rampung, tim papan atas sudah ditentukan. Sang juara sudah dilantik sebelum peluit wasit disemprit. Urusan kualitas teknik pemain, terutama di level divisi III, II, I, dan Divisi Utama, tak perlu banyak dipikirkan. Walikota, bupati, atau calon kepala daerah, atau siapa saja tokoh yang ingin tenar lewat sepak bola daerah, bisa dimenangkan timnya. Tentu saja asal urusan ”administrasi” sudah dibereskan. [Read more →]
Tags:
JOSEF, NAMANYA. Dari Flores, pria paro baya ini berjalan ke dermaga. Dengan kapal roro, ia menuju ke Surabaya. Dua hari dua malam ia berlayar.
Dari Surabaya, ibukota Jawa Timur yang kian banyak dijejali mal itu, ia menginap semalam di rumah seorang kawan. Pagi buta di Sabtu menjelang Ramadan itu, dengan bus ia menuju ke Malang, lalu ke Tumpang, lalu ke Ranu Pani dengan jalanan yang dipenuhi kerowak menantang.
Ini bukan perjalanan bisnis, tentu saja. Dari Ranu Pani, pos pemberangkatan pendakian Gunung Semeru, setapak demi setapak ia naik. Tak ada pakaian dan peralatan sangar ala pendaki. Kaus berkerah sederhana warna merah tua. Celana pendek warna khaki dan sendal cokelat muda.
Bukan tas penuh beban yang dibawanya. Hanya ransel mungil berisi sedikit makanan dan pakaian ganti. Juga kantung-kantung besar. ”Baru pertama kali ini saya ke Semeru,” ujarnya.
Saya bertemu Pak Josef jelang Ramadan lalu saat bermain ke Gunung Semeru. Saya bermalam di Ranu Kumbolo dan bangun pagi dengan badan yang masih terus menggigil. Udara luar biasa dingin. Saya menyeduh kopi susu dan menuju ke pinggir ranu biar tubuh ini bisa disirami matahari dan jadi lebih hangat. Di sanalah saya bertemu Pak Josef.
Di Ranu Kumbolo, di ketinggian sekira 2.400 meter di atas permukaan laut, dengan udara yang mencerucuk tulang, Pak Josef menghentikan perjalanan, lalu menyisir setiap sudut dan memunguti sampah-sampah plastik. Bungkus mi instan, kaleng sarden, tas plastik, hingga bekas sabun cuci muka. Kadang ia dengan mudah memungut dan melemparnya ke kantung. Tapi tak jarang ia harus mengorek tanah, mencukil bungkus yang sedikit tertimbun di dalamnya. Dalam sehari itu, ia sudah mengumpulkan tiga kantung besar sampah. [Read more →]
Tags:
—Sepenuhnya manusia selalu singgah di jalan berkabut dan tak selamanya terang dalam hidup.
Setiap kelahiran adalah harapan. Tentang tangis seorang bocah dan senyum lega ibu dan ayah. Namun setelah itu temaram: masa depan tetap menjadi janji dan tak ada yang tahu apakah itu bisa ditepati.
Setiap babak adalah asa. Tentang peluit yang dibunyikan wasit dan semangat menggebu para atlit. Tapi sesudah itu gamang: hasil pertandingan tetaplah misteri yang dibekam, kecuali ia lunglai di meja para pejudi.
Setiap Lebaran adalah sukacita. Tentang terompet yang ditiup dan bianglala kembang api yang meletup. Namun selanjutnya tetaplah tanya: apa yang terjadi lusa dan esok sepenuhnya enigma dan kerap bikin cemas.
Dengan itulah barangkali masa depan tetap menjadi gunjingan yang menggelegak di sekujur perkembangan agama dan filsafat, meski kerap tampil klise dan membosankan. Masa depan, tahun depan, esok, lusa, menjadi kolase yang tak henti ditatah, lengkap dengan gigantisme dan kenaifannya. [Read more →]
Tags:

Hari ini semestinya ia berulang tahun yang keempat puluh tujuh. Tapi tak ada dan tak akan pernah ada acara tiup lilin. Tak ada dan tak mungkin ada kartu ucapan.
Perjumpaan dan perpisahan itu sudah lama sekali. Ia bertemu terakhir kali dengan istri dan anaknya hampir 13 tahun silam, di ujung Desember 1997 yang penuh haru. Di suatu sudut Yogyakarta, sebelum sang istri kembali ke Solo, pertemuan tanpa kebak kata itu berlangsung. Mungkin ia gentar, mungkin sang istri tak rela, tapi kemuliaan selalu hadir pada orang yang tepat. [Read more →]
Tags:

Pendiri JFC Dynand Fariz
—Jember Fashion Carnaval membuat fesyen tak lagi menjadi sesuatu yang birokratis dan administratif.
Dynand Fariz memulai tradisi itu. Tapi semua meragukannya. Sulit membayangkan Jember mampu menghelat even fesyen jalanan dengan ratusan model di dalamnya. Jember adalah sebuah kota yang diklaim religius, berseberangan secara diametral dengan acara fesyen yang berasosiasi hura-hura. Senarai hambatan bingkas menyergap ide Fariz.
”Bahkan, spanduk-spanduk promo JFC dulu sempat hilang entah ke mana. Baru sehari dipasang di beberapa titik, besoknya sudah ludes semua,” ujar Fariz suatu ketika kepada saya.
Tapi Fariz seolah tak punya kepedihan, juga tak butuh rasa belas. Ia nyaris keras kepala mewujudkan ambisinya itu: Jember Fashion Carnaval (JFC). Ia memang memakai kata carnaval, dan bukan carnival.
Fariz tak berangkat dengan sebuhul cita-cita muluk. Dia hanya ingin semua orang Jember, dari strata kelas apa pun, dari geografi mana pun, bisa belajar fesyen. Fesyen adalah hak semua orang, demikian kurang-lebihnya. [Read more →]
Tags:

Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Oro-Oro Ombo, Kalimati, Arcapada, dan Mahameru, di tengah hutan yang rimbun-gelap dan rapat-kerap, serta langit yang tampak begitu dekat; saya merasa yang menakutkan justru terasa sangat indah: menggigil kedinginan di alam yang entah, melebur bersama angin yang gemerisik risau di bumi yang rasanya tak pernah kita kenal. Kefanaan manusia memang abadi dan tak bisa kita tampik.
Minggu dinihari kemarin saya juga ditunjukkan betapa damai ternyata hanya urusan untuk berani bertindak nonproduktif: menatap ranu berjam-jam, lalu rebah di hamparan rumput yang kusut. [Read more →]
Tags:

–Di sini, upaya menyelamatkan seni dari bahaya menjadi poster adalah ikhtiar yang kelewat mustahil.
Malam itu, di tengah udara Vietnam yang gerah, sendirian saya berjalan pelan memasuki Hanoi Gallery: Old Propaganda Poster. Di galeri ini, malam itu saya merasa ada sesuatu yang mengge(n)tarkan. Gelegak revolusi dan kepal tangan. Cita-cita lepas dari spontanitas dan harus tersusun rapi bak rumus geometri.
Galeri ini, yang terletak di Distrik I Ho Chi Minh alias Saigon, berisi puluhan poster propaganda gerakan kiri di Vietnam. Penuh bara, meluap-luap. Sebuah rangkaian ikhtiar hingga puncak digamit pada 30 April 1975, setelah Vietnam selatan yang disokong Amerika Serikat dibikin lungkrah oleh Vietnam utara yang berhaluan kiri. [Read more →]
Tags:
–
Penderitaan adalah riwayat, dan dengan demikian mengeram dalam diri serta tak perlu ditangisi.
Sambil membereskan longhi-nya, Hasari Pal, tokoh utama di City of Joy, tampak gusar. Saya membayangkan tubuhnya yang ringkih dan kerap batuk darah itu gemetar luar biasa. Matanya mungkin memerah: antara lebam oleh gentar dan muak sebab marah. Penggusuran segera datang ke permukiman kumuh mereka di “Negeri Bahagia” Calcutta, India.
“Bajingan-bajingan itu sungguh-sungguh telah datang: sebuah buldoser dan dua van penuh polisi bersenjatakan lathi dan tabung gas airmata.”
Hasari, penarik angkong yang bersahaja itu, adalah cermin sempurna sebuah nadir kehidupan. Kita tahu, selain kadang menjual darah untuk makan, ia bahkan menjual kerangka tubuhnya yang jauh dari sehat itu sebelum ia mati demi menikahkan putri sulungnya, Amrita. Ia bersetia dalam agamanya yang menitahkan tugas suci seorang ayah untuk menikahkan putrinya. [Read more →]
Tags:

—Bagaimana rasanya mengantarkan anak menuju kematian?
Tiba-tiba saya membayangkan Santiago, nelayan renta di masterpiece Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea, ada di hadapanku saat ini.
Santiago, seorang renta nestapa yang 84 hari melaut tanpa beroleh ikan. Lantas, apakah namanya jika nelayan berhari-hari tak mendapatkan buruan? Masihkah ia layak disebut nelayan? Kini saya seperti melihatnya lekat-lekat. Bukan di perairan lepas Havana, tapi di sebuah terminal. Bukan dengan topi jerami yang tersuruk ke belakang, tapi dengan kopiah lusuh hitam yang kumal.
Namanya Sumardi. Kutemui ia di sudut terminal Maospati, Magetan. Ia seorang pedagang asongan: rokok, air mineral, tisu, dan kembang-gula. Saat itu saya duduk di pojok terminal. Di kejauhan, di ruang tunggu penumpang, suasana hingar sungguh. Tak jauh dari tempatku ternyata ada sesosok tua itu. [Read more →]
Tags:
Agustus 6th, 2010 · flaneur

Rapi dan bagas. Pokok tiang yang simetris. Runcing atap yang meninju langit. Di Balairung Chakri Mahaprasad, Bangkok, ini, kita tahu, kekuasaan memang tak ingin sesuatu yang mencong. Patung Buddha memang ada di dekatnya, tapi ia didesain bukan bagian dari hidup yang memungut duka. Ia diadakan, tentu saja, untuk mengekalkan yang simetris itu dan menampik yang mencong. Banyak orang lupa, dunia adalah hutan rimba di mana kegilaan memang selalu jadi niscaya.
Tags: