jelangfajar

spasi. demarkasi.

jelangfajar header image 2

Menampik Monopoli Makna Cantik

Januari 24th, 2010 · 19 Comments · tak berkategori

Pada mulanya adalah konstruksi sosial. Apa yang didefinisikan sebagai cantik, modern, dan beradab ditentukan lewat konstruksi sosial. Kepentingan bisnis tentu saja turut menumpang di dalamnya. Maka, kita kini melihat bahwa mereka yang cantik adalah mereka yang berambut lurus, berkulit putih nan mulus, dan bertubuh tinggi plus langsing.

Hampir semua orang larut atau setidaknya mengamini definisi itu. Termasuk apa yang disajikan Dee dan Kuti lewat kisah berumbul Semua Anak Itik Terlahir Cantik… di buku Senandang Cinta dari Rumah Kayu. Di kisah itu, dengan sangat sederhana dan apik, Dee dan Kuti memaparkan kisah bagaimana definisi ”cantik” begitu kuat menghegemoni seluruh kalangan masyarakat, hingga ke seorang gadis kecil.

Dee dan Kuti mengisahkan keponakannya, seorang gadis kecil yang tengah beranjak menjadi remaja yang lincah dan percaya diri. Rambut gadis itu keriting. Tapi, karena dipengaruhi definisi ”cantik”, gadis itu sempat tak percaya diri.

Bahkan, saat masih duduk di kelas 3 SD, sang gadis kecil sempat merengek ke sang ibu minta diantar ke salon untuk meluruskan rambutnya. ”Teman sekelas aku juga direbonding, Bu,” kata sang gadis.

Sang ibu tetap menolak. Si gadis kecil tak menyerah. Ia merayu dan menawar lagi ke ibunya supaya diizinkan untuk meluruskan rambutnya ketika sudah duduk di bangku SMP. Tapi, sang ibu tetap bergeming.

Gadis kecil usia 8 tahun itu pun menangis di depan cermin, memandangi rambutnya yang keriting. Kendati menitikkan air mata, sang ibu tetap tak menuruti keinginan sang anak.

Tampak jelas dalam kisah yang dituliskan Dee dan Kuti itu bagaimana definisi cantik yang sangat monopolistik begitu merasuk ke banyak lapisan masyarakat, bahkan termasuk ke seorang gadis kecil.

Saat ditanya mengapa rambutnya ingin direbonding, dengan polos sang gadis menjawab, ”Biar aku cantik.”

Mudah ditebak, sang gadis kecil sudah terbuai dan larut mengamini definisi tunggal tentang kecantikan yang terus bergema dari iklan produk kecantikan hingga sinetron. Produsen alat-alat kecantikan, mulai dari shampo, bedak, sabun penghilang jerawat, sampai pemutih kulit, tak kenal henti mengiklankan diri lewat aktris-aktris ternama yang sesuai dengan kriteria dan definisi yang monopolistik tersebut.

Menarik, memang, mengkaji fenomena ketika para perempuan, bahkan termasuk gadis kecil, berebut untuk mendapatkan status cantik. Perhelatan Miss Universe, Pemilihan Putri Indonesia, dan berbagai iklan adalah hal-hal yang mencoba mengidealisasikan kecantikan hingga begitu kuat menghegemoni masyarakat.

Asumsinya, sekali pun seorang perempuan memiliki kecerdasan, namun ia tetap dilihat kurang menarik jika ia tidak ”cantik”. Seseorang yang bertubuh gemuk, kulitnya tidak putih, dan rambutnya tidak lurus terurai berarti tidak cantik.

Definisi ”cantik” lantas dipuja dan diamini seluruh perempuan sejagat. Di negeri ini, dalam kondisi masyarakat kita yang menyukai hal-hal serbavisual, gelombang iklan kecantikan yang memonopoli makna cantik hadir sebagai media untuk melegitimasi bahwa seorang perempuan harus langsing atau sintal, berkulit mulus, serta rambut panjang lurus.

Dari iklan-iklan dan gebyar sinetron di televisi itulah para perempuang ”mengukur” dirinya dengan prototipe ”cantik” yang diciptakan oleh iklan dan berbagai acara itu.

Ironisnya, mayoritas perempuan relatif merasakan adanya kesenjangan antara citra (image) tubuh ideal dan tubuh ”nyata” dirinya. Karena merasa ”tak puas” dengan apa yang dimilikinya, baik itu rambut, tinggi badan, maupun bentuk tubuh, kerap kali sang perempuan akhirnya menjadi tak percaya diri, sedih, kecewa, dan marah. Perasaan negatif itu muncul karena merasa dirinya tak seideal dengan apa yang dicitrakan di televisi, iklan, dan medium lainnya.

Tapi, tidak demikian dalam kisah Dee dan Kuti. Keduanya menceritakan dengan apik, kendati dalam beberapa sisi kurang detil, tentang perjuangan sang ibu dalam menanamkan kepercayaan diri kepada sang gadis. Sang ibunda memberi pemahaman perlahan bahwa yang definisi cantik tak berarti berambut lurus, bertubuh langsung, dan berkulit putih.

Sang ibu segera sadar, ada masalah mendasar yang akan perlu dibicarakan dengan anak gadisnya. Dengan sabar sang ibu mencoba berbincang dengan si kecil. Dengan contoh kecil seperti menunjukkan gambar sejumlah artis dengan rambut lurus dan rambut keriting. Bagi sang ibu, keriting atau lurus tak ada bedanya, karena pancaran kecantikan tak hanya dikeluarkan dari penampilan fisik, tapi juga dipancarkan dari kecerdasan dan kepribadian.

Problema makna cantik ini memang bukan persoalan sepele, karena menghujam langsung ke arah pemahaman atau persepsi seseorang, yang muaranya akan memengaruhi kepercayaan diri orang tersebut. Jika kepercayaan diri terpengaruh, akibatnya sangat mengkhawatirkan, sebab bisa jadi seumur hidupnya perempuan tersebut selalu merasa minder dan tak bisa mengaktualisasikan bakat serta kemampuannya. Inilah hal yang menjadi titik tekan Dee dan Kuti di kisah Semua Anak Itik Terlahir Cantik, yaitu bagaimana menampik makna cantik yang sangat monopolistis sekaligus menanamkan kepercayaan diri untuk mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang kita miliki.

Namun, ada apa sebenarnya yang terjadi hingga”cantik”—yang berarti bertubuh langsing, berambut lurus—menjadi semacam ”kewajiban” bagi perempuan? Dalam kajian feminisme, pandangan semacam itu muncul karena konstruksi budaya masyarakat yang masih sangat kapitalis-patriakis. Budaya masyarakat yang semacam itu selalu memandang tubuh perempuan sebagai objek. Jerat kapitalis-patriarkis ini memang mengkonstruksi body image (citra tubuh) sebagai ”legitimasi eksistensi”, sehingga perempuan harus terus mengidealkan tubuhnya untuk bisa diakui eksistensinya.

Kita melihat bagaimana sinetron, iklan, dan film terus mengampanyekan dan memperkuat makna cantik yang monopolistik tersebut. Prototipe perempuan cantik (langsing atau sintal, berkulit putih-mulus, rambut lurus tergerai) begitu kental terasa. Tidak ada satu pun bintang sinetron perempuan yang sosok dirinya berada di luar klasifikasi tersebut. Kalau pun ada, perempuan yang tidak memenuhi syarat ”cantik” itu pasti diberi peran-peran remeh, semisal pembantu.

Kampanye luar biasa tentang monopoli definisi atau makna cantik tersebut tak lain adalah untuk kepentingan ekspansi produk-produk kecantikan. Sekali lagi, kepentingan bisnis bermain di sini. Dengan gencarnya produksi definisi ”cantik” tersebut, kaum perempuan akan selalu merasa kurang ideal sesuai dengan citra cantik yang diproduksi lewat iklan produk kecantikan yang setiap saat menyergap kita. Dengan merasa kurang ideal itulah, para perempuan lantas berduyun-duyun membeli produk kecantikan.

Simone de Beauvoir dalam The Second Sex pernah mendeskripsikan mitos kecantikan secara apik. Dia menyatakan masa tersulit bagi perempuan adalah ketika menjalani proses transisi dari seorang gadis menjadi perempuan dewasa. Menurut dia, transisi menjadi dewasa diiringi tuntutan agar perempuan mempunyai sikap feminin yang berarti ”penurut, mudah dikendalikan, dan tidak produktif”. Dalam konteks ini, perempuan dibentuk bukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh citraan dari luar lewat definisi perempuan yang ”ideal”.

Dari sini jelas dinyatakan bahwa reproduksi definisi ”cantik” secara terus-menerus telah menempatkan perempuan sebagai obyek yang tidak otonom terhadap tubuhnya sendiri, karena citra ideal tentang tubuh ditentukan oleh kekuatan luar, yaitu iklan, sinetron, dan medium sejenisnya.

Upaya mendekonstruksi mitos kecantikan tersebut tentu tidak mudah dilakukan. Di sinilah Dee dan Kuti memaparkan upaya ”perlawanan” terhadap definisi ”cantik” tersebut dengan sangat sederhana dan mengalir. Hal itu membuat para pembacanya, termasuk saya, tak merasa digurui. Justru dengan gaya yang mengalir apik di kisah Semua Anak Itik Terlahir Cantik, Dee dan Kuti berhasil menyadarkan kita tentang tidak tunggalnya makna cantik. Dee dan Kuti mengajak kita untuk berani berbeda, berani untuk menggoyang kemapanan makna cantik.

Upaya sang ibu untuk menanamkan pemahaman bahwa lebih baik memaksimalkan bakat dan kemampuan sang gadis kecil daripada meributkan urusan rambut bergelombang atau keriting telah membuahkan hasil. Kini gadis kecil itu tumbuh dengan rasa percaya diri yang kuat dan mampu beraktualisasi dengan baik lewat musik tari balet.

Pasangan Dee dan Kuti mengajak para pembacanya untuk membuat pertahanan diri yang tangguh lewat cara-cara yang sederhana. Dialog antara gadis kecil dan ibunya dalam kisah Semua Anak Itik Terlahir Cantik… ini mencerminkan bahwa kita butuh stamina yang kuat dan kesabaran yang tahan lama untuk menciptakan dan menanamkan pengertian bahwa cantik itu tak mesti berambut lurus (dan berkulit putih serta berbadan langsing).

Sungguh, kisah Semua Anak Itik Terlahir Cantik… di buku Senandang Cinta dari Rumah Kayu adalah upaya luar biasa dengan cara yang luar biasa pula untuk menggoyang kemapanan berpikir di masyarakat kita.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:



19 Responses to “Menampik Monopoli Makna Cantik”

  1.   cyperus said:

    yah, sadar diri aja.. kwkwkw.. standar itu siapa yg harus menetapkan.? just a judgement, penghakiman ala manusia. maka juga sering dikata kalo cakep jelek mah relatip. hahaha.. nobody’s perfect.? hihi menurutku cm pelampiasan dan menjadi tempat nyaman sbg alasan.. hehe.. just be yourself. http://multiply.com/m/item/addicted2thatrush:journal:131 or http://addicted2thatrush.blogdetik.com/

  2.   Penyu said:

    Tulisan yang keren banget. Saya akan terkejut jika tak menang. The second sex is the answer of all my question in mind. I love it!

  3.   kuti said:

    wow… ulasannya bagus sekali dan sangat mendalam…

    terimakasih ya… tulisan yang ini pastilah masuk nominasi, hehehehe ;)

    (dan kalau masih sempat tambah lagi ya? wkwkwkwkwkwk…. :) )

  4.   'dee said:

    ( senyum- senyum lihat komen penyuuuuuu ;-) :P ) d.~

  5.   p.s. i love you » Blog Archive » And the winner is….. said:

    [...] pertama, dengan hadiah sebuah digital camera dan merchandise dari blogdetik adalah tulisan berjudul “Menampik Monopoli Makna Cantik” yang dimuat di blog [...]

  6.   erryandriyati said:

    Whuaa!!!!!!
    Selamat yaaaa..:)
    Memang layak juara 1 !….
    *sambil sirik karena gak dapet digicam* hihihihi….

  7.   rumahkayu said:

    Terimakasih untuk partisipasi dalam Rumah Kayu Writing Contest… dan… congratulations, you are the winner! d.~

  8.   Blog Detik » Blog Archive » Pemenang Rumah Kayu Writing Contest said:

    [...] pertama, dengan hadiah sebuah digital camera dan merchandise dari blogdetik adalah tulisan berjudul “Menampik Monopoli Makna Cantik” yang dimuat di blog [...]

  9.   suarahati said:

    no doubt…tulisan ini memang pantas menang…selamat yaahh…!!!

  10.   kw said:

    selamat ya. mas bisa minta ym nya? buat ngobrol blogger of the week minggu ini?
    thx

  11.   Pemenang Rumah Kayu Writing Contest | Satlaser.com said:

    [...] pertama, dengan hadiah sebuah digital camera dan merchandise dari blogdetik adalah tulisan berjudul “Menampik Monopoli Makna Cantik” yang dimuat di blog [...]

  12.   erirawan said:

    Thank you. YM di kawan_eric. Matur nuwun.

  13.   erirawan said:

    Thank you, rumahkayu. Keep writing!

  14.   t0t0ch4n said:

    suMPAH,
    kerEN AbiEZZz…..
    M0ga j,q sa nuLIs sekREn tuLIsan u,amiiinn,

  15.   vany said:

    huwaa…
    tulisannya memang keren nih…
    selamat krn telah mjd pemenang ya, mas… :D

  16.   sugenghandoyo said:

    bagi ceritanya y om…buat inspirasi..
    bolehkan???

  17.   Rinto said:

    Cantik atau tidak sangat tergantung ruang dan waktu (kapan dan dimana). Selain itu kadang kecantikan adalah hasil dari kesepakatan bersama, jujur maupun dipaksakan. Kepercayaan diri dan karakter mampu memunculkan kecantikan yg mandiri.

  18.   cici silent said:

    Wow! Sungguh sebuah tulisan yg berkualitas! Jd pengen baca Bab ini di Senandung Cinta dari Rumah Kayu, tp ga ada bukunya, hiks!

  19.   Astaga.com lifestyle on the net said:

    Wah selamat-selamat. Jadi ngiri :p

Leave a Reply